Analisis Wacana Kritis Berita Politik Pada Surat Kabar Harian Kaltara Pos Edisi Bulan Desember 2022

Realisme neoklasik sendiri di definisikan oleh Baylis sebagai drive for power and the will to dominate that are held to be fundamental aspects of human nature realisme neo-klasik dengan Hans Morgenthau sebagai tokoh yg berpendapat, politik dianggap berakar dalam sifat manusia yang self-(centered, regarding, dan interested), pemimpin politik tidak mempunyai kebebasan melakukan yang benar seperti rakyatnya, dan rasa pesimis muncul karena keterbatasan manusia. Penulis juga akan mengunakan teori Leader Personality and Foreign Policy untuk menjelaskan tindakan politik luar negeri yang diambil oleh Evo Morales dalam nenentang Amerika Serikat. Teori yang akan penulis gunakan dalam pembahasan ini adalah teori psikoanalisis, untuk bisa menjelaskan karakter Evo Morales. Oleh sebab itu dalam kaitanya dengan masalah ini maka penulis tertarik untuk memunculkan pertanyaan mengapa Evo Morales mengeluarkan kebijakan politik luar negeri dalam menentang dominasi politik Amerika Serikat di Bolivia? Maka penulis mengunakan level analisa individu, karena yang menjadi pokok pembahasan penulis adalah Evo Morales. Perlawanan itu di komandoi oleh seorang pemimpin kiri Amerika Latin Evo Morales Ayma yang menentang kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat di Bolivia. Costa, Amandio Vieira da (2013) KEBIJAKAN POLITIK LUAR NEGERI EVO MORALES MENENTANG DOMINASI POLITIK AMERIKA SERIKAT DI BOLIVIA. Kebijakan politik luar negeri suatu negara dipengaruhi oleh faktor dalam negeri dan faktor luar negeri.

Dewasa ini perselisihan antara dua negara besar seperti Amerika dan China semakin memanas dalam diskursus Laut Natuna Utara, ditambah lagi dengan meningkatnya dinamika lingkungan strategis khususnya di kawasan Asia-Pasifik yang secara langsung berdampak pada kebijakan dan politik luar negeri Indonesia. Selain itu, secara geografis juga budaya telah diakui eksistensi keragaman antara bangsa tersebut sehingga hambatan implementasi hukum internasional yang telah diakui oleh Pemerintah Indonesia melalui ratifikasi sering terbentur kepada masalah penerimaan pengaruh asing yaitu hukum internasional ke dalam kehidupan nyata yang berkembang di Indonesia yaitu dalam bentuk undang-undang karena kebijakan dasar penyelenggaraan negara dalam bidang hukum yang akan, sedang dan telah berlaku, yang bersumber dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat untuk mencapai tujuan negara yang dicita-citakan. Realisme juga memfokuskan analisisnya pada power dan otonomi dalam interaksi internasional serta tentang tidak adanya keharmonisan diantara negara-negara, sehingga konsep self-help di sini menjadi penting. Oleh karena itu, power adalah konsep kunci dalam hal ini. Moh Hatta mencetuskan konsep politik luar negeri bebas aktif pada 2 September 1948 dalam kelompok kerja KNIP.

Sejak zaman proklamasi kemerdekaan, Indonesia telah menganut politik luar negri bebas aktif. Hubungan internasional Indonesia dengan negara lain dilandasi oleh persamaan derajat dan didasarkan pada kemajuan serta persetujuan dari beberapa atau semua negara. Doktrin ini pada awalnya berawal dan meluas di Amerika (meskipun tidak secara khusus). Frase tata kepemerintahan global tidak asing bagi telinga para akademisi Hubungan Internasional secara umum. 1) memandang secara pesimistis terhadap sifat dasar manusia yang cenderung berbuat baik. Negara dipandang esensial bagi kehidupan warganegaranya: tanpa negara yang menjamin alat-alat dan kondisi-kondisi keamanan dan yang memajukan kesejahteraan, kehidupan manusia dibatasi menjadi seperti, seperti yang tersurat dalam pernyataan Thomas Hobbes yang terkenal terpencil,miskin, dan sangat tidak menyenangkan, tidak berperikemanusiaan, dan singkat. Thucydides (The Melian Dialogue 460-406BC), Nicollo Machiavelli (1496-1527), Thomas. Hubungan Internasional dari fenomena hubungan internasional Banyak yang mengutip Sejarah Perang Peloponnesia karya Thucydides sebagai inspirasi bagi teori realis, dengan Leviathan karya Hobbes dan The Prince karya Machiavelli memberikan pengembangan lebih lanjut. Fenomena globalisasi ini dapat diartikan bagaimana kerasnya dunia internasional dan membuat suatu negara harus mengusahakan suatu kegiatan yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan nasional negara. Selain isi konten dan identitas akun yang tidak jelas, fenomena buzzer juga bisa dilihat dari aktifitas tweets yang dilakukan akun tersebut dalam setiap harinya yang dianggap tidak biasa, “Aktifitas tweet satu bulan saja bisa 423 ribu tweets jauh melebihi aktifitas normal,” katanya.

Sedangkan ekonomi dan isu-isu sosial dilihat oleh kaum realis sebagai hal yang biasa, yang termasuk ke dalam kategori low politics. Realis tidak menolak prinsip-prinsip moral, Hanya saja dalam prakteknya, moralitas individual dikalahkan oleh kepentingan akan kelangsungan hidup negara dan penduduknya dan tentu saja kepentingan nasional itu sendiri Bagi kaum realis, negara merupakan aktor utama dalam panggung internasional. Hal itu menjadikan perjanjian-perjanjian dan semua persetujuan, konvensi, kebiasaan, aturan dan hukum lainnya, antara negara-negara hanyalah berupa pengaturan yang bijaksana yang dapat dan akan dikesampingkan jika semua itu berseberangan dengan kepentingan negara. Uraian singkat di atas dapat menunjukkan sebagian kecil detil bahwa partisipasi Indonesia dalam politik luar negeri dan diplomasi internasional tidak dapat dipandang sebelah mata. Skripsi ini membahas mengenai dampak politik internasional dan domestik Indonesia ketika Indonesia meratifikasi Protokol Kyoto yang bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Perspektif realis banyak membahas tentang perang dan keamanan yang berkaitan dengan militer dan power.